Rencana Pembangunan Gedung Baru MUI di Bundaran HI Masuki Tahap Perancangan

Rencana Pembangunan Gedung Baru MUI di Bundaran HI Masuki Tahap Perancangan

Pemerintah memastikan bahwa Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berlokasi di kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, akan dibangun kembali dari awal. Proyek ini menjadi perhatian publik karena lokasinya yang berada di salah satu titik paling ikonik di ibu kota. Saat ini, pembangunan tersebut masih berada dalam tahap perancangan desain dan belum memasuki tahap konstruksi fisik.

BACA JUGA : Tragedi Pendidikan di NTT: Ketika Biaya Sekolah Menjadi Beban Berat

Dibangun Kembali dari Awal

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pembangunan Gedung MUI akan dilakukan dari nol. Artinya, bangunan yang akan berdiri nantinya merupakan hasil perencanaan baru, bukan sekadar renovasi atau perbaikan struktur lama.

Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta, pada Selasa (10/2/2026). Ia membenarkan bahwa konsep pembangunan memang dirancang ulang secara menyeluruh agar dapat menyesuaikan kebutuhan kelembagaan dan perkembangan zaman.

Pembangunan dari awal memberi peluang bagi perancang untuk menghadirkan gedung yang lebih representatif, modern, serta sesuai dengan standar keamanan dan tata ruang kota Jakarta yang terus berkembang.

Lokasi Strategis di Jantung Ibu Kota

Bundaran HI dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas bisnis dan pemerintahan di Jakarta. Kawasan ini menjadi simbol modernitas kota dan sering dijadikan lokasi berbagai acara nasional maupun internasional.

Dengan dibangunnya kembali Gedung MUI di area tersebut, diharapkan peran lembaga ini semakin terlihat secara simbolik maupun fungsional. Lokasi yang strategis juga memudahkan akses bagi masyarakat, pejabat negara, serta tamu dari luar daerah maupun mancanegara.

Namun, pembangunan di kawasan premium seperti Bundaran HI tentu memerlukan perencanaan matang, baik dari sisi desain arsitektur, tata kota, hingga pengaturan lalu lintas selama proses konstruksi berlangsung.

Masih dalam Tahap Desain

Saat ini, proyek Gedung MUI masih berada pada tahap penyusunan desain. Tahap ini sangat krusial karena akan menentukan konsep bangunan secara keseluruhan, mulai dari bentuk fisik, jumlah lantai, fungsi ruang, hingga elemen estetika yang mencerminkan identitas lembaga.

Proses desain biasanya melibatkan arsitek, konsultan perencana, serta berbagai pihak terkait untuk memastikan bangunan memenuhi standar teknis dan regulasi yang berlaku. Pada tahap ini pula dilakukan penyesuaian terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta agar pembangunan tetap sejalan dengan kebijakan tata kota.

Belum ada informasi rinci mengenai konsep arsitektur yang akan diusung, apakah mengedepankan gaya modern minimalis, sentuhan arsitektur Islami, atau kombinasi keduanya. Namun, banyak pihak berharap gedung baru ini dapat menjadi ikon baru yang selaras dengan karakter kawasan Bundaran HI.

Anggaran Masih Dalam Pembahasan

Terkait anggaran pembangunan, Mensesneg Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa angka pastinya belum ditetapkan. Hal ini wajar mengingat proyek masih berada pada tahap desain, sehingga kebutuhan biaya baru dapat dihitung secara detail setelah rancangan final disetujui.

Biasanya, perhitungan anggaran akan mencakup biaya perencanaan, konstruksi, pengawasan, hingga fasilitas pendukung seperti sistem keamanan, parkir, dan ruang publik. Penetapan anggaran juga akan mempertimbangkan kondisi fiskal negara serta prioritas pembangunan lainnya.

Transparansi dalam pengelolaan anggaran menjadi aspek penting agar proyek ini dapat berjalan lancar dan mendapat dukungan publik.

Harapan terhadap Gedung Baru MUI

Sebagai lembaga yang memiliki peran strategis dalam memberikan panduan keagamaan dan fatwa bagi umat Islam di Indonesia, MUI membutuhkan fasilitas yang memadai untuk menunjang aktivitasnya. Gedung baru diharapkan mampu menyediakan ruang kerja yang representatif, ruang sidang yang lebih modern, serta fasilitas pendukung lainnya.

Selain fungsi administratif, gedung ini juga berpotensi menjadi pusat dialog dan kajian keislaman yang terbuka bagi masyarakat luas. Dengan desain yang tepat, bangunan tersebut dapat mencerminkan nilai-nilai moderasi, keterbukaan, dan profesionalisme.

Keberadaan gedung baru di Bundaran HI juga bisa memperkuat citra kelembagaan MUI di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, proses pembangunan harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan, efisiensi energi, dan dampak lingkungan.

Penutup

Rencana pembangunan Gedung MUI dari nol di kawasan Bundaran HI menandai langkah baru dalam penguatan infrastruktur kelembagaan. Meski masih dalam tahap desain dan belum memiliki kepastian anggaran, proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menghadirkan fasilitas yang lebih representatif.

Publik kini menantikan detail lebih lanjut mengenai konsep arsitektur, jadwal pembangunan, serta estimasi biaya yang akan digunakan. Jika dirancang dengan baik, gedung baru tersebut berpotensi menjadi simbol sinergi antara nilai keagamaan dan modernitas di pusat ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *